Translate

IPv6 Static Route


Singkat Cerita mau nyoba OSPFv3 tapi bingung karena gak ada kolom networks seperti OSPFv2 (yang biasa)

Yaudah deh nyobain static route aja hahahaha

1. Config IP diantara MikroTik agar bisa terhubung secara "Connected Routes"

Router MikroTik-1 (1111:2222:3333:4444::1/64) :


Router MikroTik-2 (1111:2222:3333:4444::2/64) :


First Step Note:
- IPv6 Address bisa ditambahkan pada menu IPv6 ~> Address
- Itu kok ada 2 address lagi? itu addresss Link-Local (abaikan saja saat ini)

2. Pastikan sudah bisa PING dan pada IPv6 ~> Routes sudah terbentuk routing table DAC

Second Step Note:
- Status PING diperlihatkan dengan messages echo reply
- Routing Table IPv6 dapat dilihat dimenu IPv6 ~> Routes

3. Tambahkan Static Route pada Routing Table IPv6 ~> Routes

Router MikroTik-1 :
Gateway = 1111:2222:3333:4444::2
dst-address = ::/0


Router MikroTik-2 :
Gateway = 1111:2222:3333:4444::1
dst-address = ::/0

Third Step Note:
- Cara Masih Sama dengan static route pada IPv4 yang membedakan hanya IP yang digunakan
- ::/0 berarti default route (silahkan disesuaikan)
- IP Gateway adalah pintu masuk ke network tujuan/dst-address (sama seperti IPv4)

Untuk IP yang di route oleh MikroTik disini saya menggunakan IP Loopback, cara menambahkan IP Loopback adalah buatlah interface bridge tanpa ports dikedua router tersebut dan IP tersebut yang akan saya jadikan sebagai IP tujuan untuk di PING karena memang sudah beda network

Membuat Bridge Interface:


/interface bridge add name=lo
silahkan dilakukan dikedua router dan berikan IPv6 Address (There is no screenshoot, this is a challange for you as a readers)


Pengujian:

IPv6 beda network sudah bisa di PING !!!

Router MikroTik-1 Export Compact =
/interface bridge
add name=lo
/ipv6 address
add address=1111:2222:3333:4444::1 advertise=no interface=ether1
add address=2002::2 advertise=no interface=lo
/ipv6 route
add distance=1 gateway=1111:2222:3333:4444::2

Router MikroTik-2 Export Compact =
/interface bridge
add name=lo
/ipv6 address
add address=1111:2222:3333:4444::2 advertise=no interface=ether1
add address=2001::2 advertise=no interface=lo
/ipv6 route
add distance=1 gateway=1111:2222:3333:4444::1
Summary:
- Jujur saya masih pemula dalam IPv6 ini, pada awal mulanya saya diracunin sama mas Ikhwan untuk belajar IPv6 yang awalnya saya muak ngeliat deretan angka itu, tapi sejak diracunin dan dicoba ternyata asik juga, jadi mohon maaf jika masih salah menggunakan IPv6 Address karena saya rasa ini masih lingkup LAN jadi yowes hihihihi :D :D :D 
- dan tolong menu IPv4 dan IPv6 untuk melihat routing table, neighbor view, firewall itu beda menu hehehe
- lalu kenapa no-advertise? nah loh, itu PR untuk para pembaca :D we are not using SLAAC/RA here (maaf kalau salah)
- Tadinya mau nyobain OSPFv3 tapi bingung karena gak ada menu networks untuk advertise jadi yaudah deh, coba static route aja dulu :D dan googling juga masih bingung wkwkwkwkwk
- Config Static Route di IPv4 sama saja dengan IPv6, yang membedakan hanya pada address yang awalnya/biasanya menggunakan IPv4, sekarang kita ganti dengan IPv6
- And thanks to my IPv6 classmates and who was teach me IPv6

BGP Attribute & Path Selection

The Images Was Taken From Google Images
1. Overview
- Tiap routing protocol memiliki metric, RIP metricnya hop count, OSPF metricnya cost, EIGRP adalah bandwith dan delay
- Metric di BGP digunakan untuk menentukan best path selection algorithm
- BGP memiliki metric yang kompleks yang disebut dengan attribute
- BGP Origin adalah salah satu attribute yang menentukan best path selection algorithm
- Best path selection BGP ditentukan berdasarkan hirarki attribute dibawah ini:
01. Next-hop validation, next-hop active lebih prioritas dari unreachable
02. Distance, Prefer eBGP over iBGP
03. WEIGHT (default 0), semaking tinggi maka semakin prioritas
04. LOCAL-PREF (default 100), semakin tinggi maka semakin prioritas
05. Shortest AS-PATH, jalur AS terpendek
06. Locally originated path (aggregate, BGP network)
07. MED (default 0), terendah lebih prioritas
08. Prefer the route with lowest router ID or ORIGINATOR_ID
10. Shortest route reflection cluster (default 0)
11. Prefer the path that comes from lowest neighbor address

Secara umum BGP attribute terbagi menjadi dua, yaitu:
1. Well Known Attribute
Semua pabrikan perangkat merk apapun yang menjalankan BGP pasti mengenali dan memiliki atribute tipe ini, well known attribute terbagi menjadi dua, yaitu:
a. Mandatory (harus)
attribute ini pasti ada setiap kali router menjalankan BGP dan terbagi menjadi 3, yaitu:
- AS-Path : AS Number yang dilewati oleh BGP
- Next-hop : menampilkan ip via untuk menuju suatu route
- Origin : menampilkan informasi dari mana route berasal, apakah dari BGP atau IGP yang diredistribute ke BGP

b. Decretionary (bebas menentukan)
attribute ini baru ada apabila dikonfigurasikan, bila tidak dikonfigurasikan, maka attribute ini tidak dibawa serta oleh BGP dan terbagi menjadi 2, yaitu:
- Local Prefrence : digunakan untuk menentukan jalur upstream
- Automic Aggregate : merupakan suatu route hasil aggregate/summarization

2. Optional
Attribute ini hanya dimiliki oleh beberapa pabrikan tertentu saja, tidak semua perangkat yang menjalankan BGP mengenali dan memiliki fitur ini
Optional attribute terbagi menjadi dua, yaitu:
a. Transitive
Attribute ini apabila tidak dikenali oleh perangkat tertentu, maka attribute ini akan tetap diteruskan ke yang lainnya
1. Aggregator : merupakan router yang melakukan summarization
2. Community, terbagi menjadi 4:
- No-export : attribute ini akan menjadikan suatu route diadvertise hanya ke internal BGP saja
- No-advertise : attribute ini akan menjadikan suatu route tidak diadvertise kemana-mana, baik internal ataupun external
- Internet : attribute ini akan menjadikan route nya diadvertise kemana saja
- Local-as : attribute ini hanya ada pada BGP confederation, dimana routenya hanya akan diadvertise kedalam sub-as yang sama saja, tidak diadvertise ke sub AS yang lain

b. Non Transtive
Attribute ini apabila tidak dikenali oleh perangkat tertentu, maka akan didrop attributenya oleh perangkat tersebut
1. MED : digunakan untuk menentukan traffic kembali/downstream
2. Originator : menunjukan router yang menjadi route reflector
3. Cluster ID : menunjukan nilai cluster id yang digunakan pada redundant route reflector